SMK Negeri 3 Salatiga Raih Juara 1 LKS Tingkat Provinsi, Ukir Sejarah Baru Sekolah

Salatiga, April 2026

Prestasi membanggakan berhasil diraih oleh Tim Pengelasan SMK Negeri 3 Salatiga melalui ajang Lomba Kompetensi Siswa (LKS) tingkat provinsi. Kemenangan ini menjadi pencapaian yang tidak hanya membanggakan, tetapi juga mencatatkan sejarah baru bagi sekolah dalam ajang kompetisi berjenjang tersebut.
Guru pembimbing, Restu Wibowo, S.Pd., mengungkapkan bahwa keberhasilan ini terasa begitu istimewa. Rasa bangga dirasakan, meskipun hasil juara 1 diakui tidak pernah benar-benar disangka. “Target awal hanya masuk lima besar, tetapi hasilnya justru melampaui harapan,” ungkapnya. Hal serupa juga dirasakan oleh Sang Juara, Muhamad Adib Fairus. Ia menyampaikan bahwa kebahagiaan besar dirasakan karena kompetisi ini diikuti oleh peserta dari seluruh kabupaten-kota di Jawa Tengah. “Ini ajang besar, jadi sangat membanggakan bisa menjadi juara,” ujarnya.
Proses menuju kemenangan tersebut tidaklah singkat. Restu Wibowo menjelaskan bahwa tahapan persiapan telah dilakukan selama kurang lebih dua tahun. Proses diawali dengan seleksi calon peserta selama satu tahun, kemudian dilanjutkan dengan pembinaan intensif selama satu tahun berikutnya. Sementara itu, Adib menambahkan bahwa dirinya telah memulai latihan sejak awal kelas XI, dengan fokus pada simulasi kondisi lomba dan penguasaan aturan kompetisi.
Dalam proses latihan, berbagai tantangan turut dihadapi oleh tim. Salah satu kendala utama yang diungkapkan oleh guru pembimbing adalah keterbatasan anggaran serta menjaga konsistensi siswa dalam berlatih. Latihan bahkan sering dilakukan hingga larut malam demi menguasai keterampilan yang dibutuhkan. Dari sisi siswa, tantangan yang dirasakan lebih bersifat internal, yaitu rasa malas saat akan memulai latihan. Hal ini menjadi hambatan yang harus dihadapi secara pribadi.
Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, strategi yang diterapkan cukup beragam. Dari sisi pembimbing, penggunaan bahan latihan diupayakan seefisien mungkin agar tidak terbuang. Selain itu, motivasi siswa terus dibangun, salah satunya dengan memberikan kesempatan mengikuti uji sertifikasi kompetensi sebagai bekal memasuki dunia kerja. Dari sisi siswa, semangat untuk terus berkembang menjadi kunci utama dalam melawan rasa malas dan tetap konsisten berlatih.
Keunggulan tim dalam kompetisi ini terletak pada kualitas hasil pengelasan. Restu Wibowo menjelaskan bahwa tim memperoleh nilai baik pada uji visual, bahkan berada di peringkat tiga. Namun, keunggulan utama justru terletak pada hasil uji tekan, di mana hasil pengelasan tim dinyatakan sempurna tanpa kebocoran, sementara banyak peserta lain mengalami kebocoran. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Adib yang menegaskan bahwa kerapatan hasil pengelasan menjadi faktor utama kemenangan tim.
Peran guru pembimbing dalam proses ini sangat penting. Restu Wibowo menekankan pentingnya ketelitian dalam setiap tahapan pengelasan, mulai dari pembersihan terak hingga penyetelan mesin yang tepat. Sementara itu, bagi Adib, guru pembimbing berperan sebagai sosok yang melatih, memberikan arahan, serta dukungan moral agar siswa siap menghadapi lomba.
Momen paling menegangkan selama lomba terjadi pada tahap penilaian. Menurut Restu Wibowo, pada sesi uji visual, peserta berisiko didiskualifikasi apabila hasil pekerjaan tidak sesuai dengan standar teknis. Selain itu, uji tekan atau uji kebocoran juga menjadi penentu utama. Dari sudut pandang siswa, ketegangan dirasakan saat proses pengujian hasil pengelasan, terutama ketika menunggu apakah hasil tersebut bocor atau tidak, serta saat menanti keputusan juri.
Kemenangan ini memiliki makna yang mendalam bagi tim dan sekolah. Restu Wibowo menyebutnya sebagai sebuah “keajaiban” karena melampaui target awal. Selain itu, prestasi ini menjadi pencapaian pertama sekolah dalam ajang LKS tingkat provinsi. Bagi siswa, kemenangan ini menjadi pengalaman berharga sekaligus bukti bahwa usaha yang dilakukan selama ini membuahkan hasil.
Ke depan, harapan besar disampaikan oleh guru pembimbing agar prestasi ini dapat menjadi awal dari tradisi juara di sekolah. “Semoga keberhasilan ini dapat menular ke jurusan lain dan berlanjut pada prestasi-prestasi berikutnya,” ujarnya. Dengan capaian ini, semangat untuk terus berkembang dan berprestasi diharapkan semakin tumbuh di lingkungan sekolah.

 

Jurnalis: Fajar Arifiyanto, M.Pd. - Guru Bahasa Indonesia

Perpustakaan Edelweis Cendekia, SMK N 3 Salatiga